Get Adobe Flash player

MAJALENGKA - Mengantisipasi kekeringan yang melanda lahan persawahan di wilayah utara Kabupaten Majalengka. Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka mengirimkan 10 pompa air dan membantu petani membuat sumur-sumur pompa sebanyak 36 titik di daerah yang terancam kekeringan.

 

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Drs. H. Wawan Suwandi, MP seusai menghadiri acara kerjasama koperasi dan perbankan kepada sejumlah wartawan di gedung SKB Majalengka, Rabu (11/7). “Distankan melakukan tindakan preventif dengan mengirimkan pompa air dan membantu pembuatan sumur-sumur air ke lahan-lahan tadah hujan yang sangat sulit sumber airnya,” ujarnya.

 

Menurutnya daerah yang terancam kekeringan sebanyak 36 titik lahan tadah hujan yang terletak di wilayah utara kabupaten Majalengka terutama Kecamatan Ligung yang meliputi Desa Ligung, Desa Sukawera, Desa Majasari, Desa Leuweunghapit, Desa Kedungkencana, Desa Kodasari dan Desa Kedungsari.

“Namun lahan yang terancam kekeringan seluas 901 hektar tersebut masih dalam kategori ringan dan sedang belum termasuk kategori berat yang usia tanamnya baru 60-70 hari atau menjelang berbunga, yang apabila ada hujan satu kali saja ancaman kekeringan tersebut hilang,” jelasnya.

Selain itu menurut Wawan, ancaman kekeringan juga melanda Kecamatan Sindang seluas 117 hektare yang meliputi Desa Sindang, Desa Bayureja, dan Desa Pasir Ayu dengan kondisi kekeringan hamper merata, dan di Kecamatan Talaga yang meliputi Desa Lampuyang, Margamukti, Cikeusal, Cibeureum dan Campaga dengan sfesifikasi kekeringan ringan dan sedang.

“Di Wilayah selatan yang paling parah ancaman kekeringan melanda Kecamatan Lemahsugih yang meliputi Desa Lemahputih, Mekarjaya, Sadawangi serta Mekarwangi dan Kepuh yang terancam kekeringan mencapai 62 hektare dan kekeringan ringan 2 hektare,”ungkapnya.

Menurut H. Wawan dari ancaman kekeringan ringan dan sedang itu akan mengakibatkan kegagalan panen bagi petani. Untuk kategori kekeringan ringan ancaman kegagalan panennya hanya 1-25 % sedangkan untuk kekeringan sedang tingkat kegagalan panenya mencapai 26-50 %.

“Padahal Dinas Pertanian dan Perikanan berkoordinasi dengan BP4K, BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Alam telah memperingati para petani khususnya yang di wilayah utara agar musim tanam ini beralih ke palawija, namun mereka beralasan dulik (mengadu milik/untung) berharap turun hujan, padahal kami sejak awal sudah memperingatkan melalui penyuluh-penyuluh di lapangan,” jelasnya.

Sementara itu di tempat yang sama Kepala Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah Ir. Bayu Jaya mengatakan setelah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) Jatiwangi puncak kekeringan di Kabupaten Majalengka diprediksi jatuh pada bulan Agustus.

“Tentunya BPBD terus berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Distankan, BP4K, terutama dengan Perum Perhutani dan pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai untuk mengantisipasi adanya kebakaran hutan dan lahan pertanian,” ungkapnya.